Senin, 23 Juli 2012

Mesin Waktu

Puasa, Bulan suci, Bulan Ramadhan,
(Tenang, saya tidak akan menulis soal agama di sini, karena saya rasa saya masih kurang pantas untuk itu :))

Entah kenapa saya merasa bulan puasa seperti sebuah mesin waktu.
Sebuah momen satu bulan yang mampu menghempaskan ingatan ke beberapa tahun silam.
Tak hanya satu, dua, tiga, empat tahun ke belakang. Tapi juga hingga 10 tahun ke belakang.

Saat usia saya kira-kira 7-10 tahun, setelah sahur dan shalat subuh ayah sering mengajak saya jalan-jalan. Yang paling saya ingat adalah sebuah tempat pelelangan ikan dengan pemandangan kapal-kapal nelayan dan laut khas kawasan Jakarta Utara. Sepulang dari sana biasanya kami menenteng beberapa plastik ikan untuk dimasak ibu di rumah.

Menjelang buka puasa, sepulang ayah bekerja ia mengajak aku dan adikku berputar-putar jalan raya dengan motor Vespa yang sampai saat ini masih ada di gudang rumah. Bercerita ini itu, menikmati angin sore, dan melihat orang-orang sibuk membeli kudapan untuk berbuka puasa di beberapa tempat.

Malamnya, saya selalu merengek minta ikut shalat tarawih, saat itu kedua adik saya masih balita sehingga ibu harus di rumah untuk menjaga mereka. Hingga suatu hari ayah mengajak saya pergi tarawih bersamanya. Saya masih ingat saat itu saya tidak berani shalat sendiri di bagian perempuan sehingga ayah mengajak saya shalat di bagian laki-laki (memakai mukena seorang diri di tengah pria-pria besar yang berpeci)

Ketika usia saya 11-13 tahun, adik saya sudah cukup besar untuk diajak pergi tarawih, saya sekeluarga mulai memiliki rutinitas tarawih bersama, berjalan ke masjid bersama, berpisah saat memasuki masjid, dan saling menunggu untuk pulang bersama ketika shalat usai.
Saya dan adik saya selalu menempati bagian atas masjid saat shalat, dimana kami dapat melihat ke arah jemaah pria shalat melalui balkon kaca. Dari situ kami biasanya main tebak-tebakan dimana ayah berada.. . . . . . .Sampai saat ini kami masih menempati tempat itu ketika shalat, meski ada yang berbeda. Dalam hati kecil kadang berharap, bisa menemukan sosok ayah di antara kerumunan itu kembali. Tak terasa sudah enam tahun saya tidak melihat sosok itu di tengah kerumunan orang-orang yang sedang shalat. Mesin waktu ini membuat saya kembali rindu ayah saya.

Segelintir ingatan yang beberapa kali menyambangi kepala ketika bulan puasa datang.

Terima kasih Tuhan, masih memberikan saya umur untuk dapat bertemu kembali dengan bulan suci ini. Terima kasih, karena masih memberi saya kesempatan merasakan mesin waktu ini lagi.

Jumat, 13 Juli 2012

bukan cuma cinta yang bisa bertepuk sebelah tangan,
temanpun
juga bisa

NN