Tulus?
Seakan benda mahal yang langka dan semakin sulit dicari
Wajah manusia semakin bermacam - macam
Memakai topeng berbagai warna dan rupa
Apa sulitnya bilang tidak, ketika tak suka
Dan iya hanya jika memang iya
Bukan bilang iya tapi beringsutan bilang tidak kemana-mana di belakang
Manusia . . . .
Rabu, 03 Oktober 2012
Senin, 23 Juli 2012
Mesin Waktu
Puasa, Bulan suci, Bulan Ramadhan,
(Tenang, saya tidak akan menulis soal agama di sini, karena saya rasa saya masih kurang pantas untuk itu :))
Entah kenapa saya merasa bulan puasa seperti sebuah mesin waktu.
Sebuah momen satu bulan yang mampu menghempaskan ingatan ke beberapa tahun silam.
Tak hanya satu, dua, tiga, empat tahun ke belakang. Tapi juga hingga 10 tahun ke belakang.
Saat usia saya kira-kira 7-10 tahun, setelah sahur dan shalat subuh ayah sering mengajak saya jalan-jalan. Yang paling saya ingat adalah sebuah tempat pelelangan ikan dengan pemandangan kapal-kapal nelayan dan laut khas kawasan Jakarta Utara. Sepulang dari sana biasanya kami menenteng beberapa plastik ikan untuk dimasak ibu di rumah.
Menjelang buka puasa, sepulang ayah bekerja ia mengajak aku dan adikku berputar-putar jalan raya dengan motor Vespa yang sampai saat ini masih ada di gudang rumah. Bercerita ini itu, menikmati angin sore, dan melihat orang-orang sibuk membeli kudapan untuk berbuka puasa di beberapa tempat.
Malamnya, saya selalu merengek minta ikut shalat tarawih, saat itu kedua adik saya masih balita sehingga ibu harus di rumah untuk menjaga mereka. Hingga suatu hari ayah mengajak saya pergi tarawih bersamanya. Saya masih ingat saat itu saya tidak berani shalat sendiri di bagian perempuan sehingga ayah mengajak saya shalat di bagian laki-laki (memakai mukena seorang diri di tengah pria-pria besar yang berpeci)
Ketika usia saya 11-13 tahun, adik saya sudah cukup besar untuk diajak pergi tarawih, saya sekeluarga mulai memiliki rutinitas tarawih bersama, berjalan ke masjid bersama, berpisah saat memasuki masjid, dan saling menunggu untuk pulang bersama ketika shalat usai.
Saya dan adik saya selalu menempati bagian atas masjid saat shalat, dimana kami dapat melihat ke arah jemaah pria shalat melalui balkon kaca. Dari situ kami biasanya main tebak-tebakan dimana ayah berada.. . . . . . .Sampai saat ini kami masih menempati tempat itu ketika shalat, meski ada yang berbeda. Dalam hati kecil kadang berharap, bisa menemukan sosok ayah di antara kerumunan itu kembali. Tak terasa sudah enam tahun saya tidak melihat sosok itu di tengah kerumunan orang-orang yang sedang shalat. Mesin waktu ini membuat saya kembali rindu ayah saya.
Segelintir ingatan yang beberapa kali menyambangi kepala ketika bulan puasa datang.
Terima kasih Tuhan, masih memberikan saya umur untuk dapat bertemu kembali dengan bulan suci ini. Terima kasih, karena masih memberi saya kesempatan merasakan mesin waktu ini lagi.
(Tenang, saya tidak akan menulis soal agama di sini, karena saya rasa saya masih kurang pantas untuk itu :))
Entah kenapa saya merasa bulan puasa seperti sebuah mesin waktu.
Sebuah momen satu bulan yang mampu menghempaskan ingatan ke beberapa tahun silam.
Tak hanya satu, dua, tiga, empat tahun ke belakang. Tapi juga hingga 10 tahun ke belakang.
Saat usia saya kira-kira 7-10 tahun, setelah sahur dan shalat subuh ayah sering mengajak saya jalan-jalan. Yang paling saya ingat adalah sebuah tempat pelelangan ikan dengan pemandangan kapal-kapal nelayan dan laut khas kawasan Jakarta Utara. Sepulang dari sana biasanya kami menenteng beberapa plastik ikan untuk dimasak ibu di rumah.
Menjelang buka puasa, sepulang ayah bekerja ia mengajak aku dan adikku berputar-putar jalan raya dengan motor Vespa yang sampai saat ini masih ada di gudang rumah. Bercerita ini itu, menikmati angin sore, dan melihat orang-orang sibuk membeli kudapan untuk berbuka puasa di beberapa tempat.
Malamnya, saya selalu merengek minta ikut shalat tarawih, saat itu kedua adik saya masih balita sehingga ibu harus di rumah untuk menjaga mereka. Hingga suatu hari ayah mengajak saya pergi tarawih bersamanya. Saya masih ingat saat itu saya tidak berani shalat sendiri di bagian perempuan sehingga ayah mengajak saya shalat di bagian laki-laki (memakai mukena seorang diri di tengah pria-pria besar yang berpeci)
Ketika usia saya 11-13 tahun, adik saya sudah cukup besar untuk diajak pergi tarawih, saya sekeluarga mulai memiliki rutinitas tarawih bersama, berjalan ke masjid bersama, berpisah saat memasuki masjid, dan saling menunggu untuk pulang bersama ketika shalat usai.
Saya dan adik saya selalu menempati bagian atas masjid saat shalat, dimana kami dapat melihat ke arah jemaah pria shalat melalui balkon kaca. Dari situ kami biasanya main tebak-tebakan dimana ayah berada.. . . . . . .Sampai saat ini kami masih menempati tempat itu ketika shalat, meski ada yang berbeda. Dalam hati kecil kadang berharap, bisa menemukan sosok ayah di antara kerumunan itu kembali. Tak terasa sudah enam tahun saya tidak melihat sosok itu di tengah kerumunan orang-orang yang sedang shalat. Mesin waktu ini membuat saya kembali rindu ayah saya.
Segelintir ingatan yang beberapa kali menyambangi kepala ketika bulan puasa datang.
Terima kasih Tuhan, masih memberikan saya umur untuk dapat bertemu kembali dengan bulan suci ini. Terima kasih, karena masih memberi saya kesempatan merasakan mesin waktu ini lagi.
Selasa, 12 Juni 2012
Monolog 2
Ini sudah hari Rabu?
Besok saya sidang loh . . . .
Lalu?
Sekarang masih revisi presentasi
Kenapa?
Baru dikabari kemarin sore
Salah siapa?
Saya juga salah, nyicil tak maksimal
Lalu gimana?
Masih harus ke kantor pembimbing siang ini
Lupa fotocopy buku
Khawatir?
Iya
Kenapa?
Saya belum baca bukunya, belum siap-siap yang perlu dibawa, dan data-data juga belum
Jadi gimana?
Hemm saya tidak punya hak menebak-nebak, menerka-nerka masa depan, biar Tuhan saja
Saya percaya Dia tahu yang terbaik
Maaf saya yang terlalu bodoh, dan tidak tahu diri
sudah tau dosa tapi tetap tidak dilakukan
Bismillah saja . . . .
(cuma lagi bingung dan lagi gak ada teman ngobrol jadi ngobrol sendiri disini)
Besok saya sidang loh . . . .
Lalu?
Sekarang masih revisi presentasi
Kenapa?
Baru dikabari kemarin sore
Salah siapa?
Saya juga salah, nyicil tak maksimal
Lalu gimana?
Masih harus ke kantor pembimbing siang ini
Lupa fotocopy buku
Khawatir?
Iya
Kenapa?
Saya belum baca bukunya, belum siap-siap yang perlu dibawa, dan data-data juga belum
Jadi gimana?
Hemm saya tidak punya hak menebak-nebak, menerka-nerka masa depan, biar Tuhan saja
Saya percaya Dia tahu yang terbaik
Maaf saya yang terlalu bodoh, dan tidak tahu diri
sudah tau dosa tapi tetap tidak dilakukan
Bismillah saja . . . .
(cuma lagi bingung dan lagi gak ada teman ngobrol jadi ngobrol sendiri disini)
Sabtu, 19 Mei 2012
Siapa Justin Bieber ?
Justin Justin Bieber Bieberan itu siapa sih?
Dia perempuan apa laki - laki?
Masih anak - anak?
Ibu Kus - Ibu Kandung Bocil
Sabtu, 19 Mei 2012 (pukul 20. sekian sekian)
Senin, 26 Maret 2012
berontak otak
Saya mulai kewalahan mengatur waktu
kebanyakan leyeh - leyeh
TKA tak juga move on
tugas - tugas
dan
UTS
semua datangnya keroyokan
#mahasiswatingkatakhir
(semakin hari juga semakin menghawatirkan masa depan, mau apa setelah lulus nanti?)
Langganan:
Postingan (Atom)
